Loading...

Mencari

Memuat...

Translate

Selasa, 22 November 2011

Keadaan Umum Kawasan Hutan Konservasi

Keadaan Umum Hutan Konservasi 
Balai Besar KSDA Jabar di Provinsi Banten
Oleh : Soleh Wiji, S.Hut.T.
 
Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelesatarian Alam yang dikelola oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat, Seksi Konservasi Wilayah I di Provinsi Banten seluas 5.573,15 Ha terdiri dari Cagar Alam, Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Laut. Data kawasan sebagaimana daftar berikut di bawah ini.

No.
Jenis Kawasan
Luas (Ha)
SK Penunjukan/
Penetapan Kawasan
Kekhasan /Potensi Kawasan
1.
CA. Rawa Danau
2.500
GB   No.   6   Staatblad   683, 16 November 1921
Rawa pegunungan satu-satunya di Pulau Jawa
2.
CA. Gunung Tukung Gede
1.700
SK. Mentan
No. 395/Kpts/Um/1979, 23 Juni 1979
Hutan hujan tropis
3.
CA. Pulau Dua
30
SK   Menhut   
No. 253/Kpts-11/1984
26  Desember  1984
Hutan mangrove tempat berbiak berbagai burung air
4.
TWA. Pulau Sangiang
528,15
SK. Menhut
No. 55/Kpts-ll/1993,
8 Pebruari 1993
Esturia/legon, panorama alam pantai
5.
TWA. Carita
95
SK Mentan No. 440/Kpts/Um/ 7/1978, 15 Juli 1978
Hutan hujan tropis, panorama alam
6.
TWL. Pulau
Sangiang
720
SK.  Menhut   No. 689/Kpts-11/1991,
12 Oktober 1991
Terumbu karang, biota laut


I. Cagar Alam Rawa Danau
Satu Satunya Rawa Pegunungan di Pulau Jawa

Cacar Alam Rawa Danau ditunjuk perdasarkan Goverment Besluit (GB) 60 Staatblad Nomor 683 tanggal 16 November 1921. Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, Cagar Alam termasuk Kawasan Suaka Alam, yaitu kawasan dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pegawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilavah sistem penyangga kehidupan.
Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Cagar Alam Rawa Danau memiliki kekhasan sebagai type ekosistem berupa rawa pegunungan.


Luas dan Letak
Luas Cagar Alam Rawa Danau adalah 2.500 Ha. Secara geografis CA Rawa Danau terletak antara 6008' sampai dengan 6011' Lintang Selatan dan 1050"56' sampai dengan 106004' Bujur Timur, dengan ketinggian tempat antara 90 s/d 225 m dpl. Berdasarkan administrasi pemerintahan Cagar Alam Rawa Danau meliputi tiga wilavah kecamatan vaitu Padarincang, Gunung Sari dan Mancak. Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Menurut wilayah pengelolaan Cagar Alam Rawa Danau termasuk wilavah kerja Seksi Koservasi Wilayah I Serang, Bidang KSDA Wilayah I Bogor, Balai Besar KSDA Jawa Barat.
Cagar Alam Rawa Danau berbatasan iangsung dencan Cagar Alam Tukung Gede di sebelah Utara dan Timur sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan desa Kalumpang, di sebelah barat berbatasan denqan desa Ciraab

Topografi

Sebagian dari wilayah Cagar Alam Rawa Danau berupa dataran rawa dan perairan danau, kecuali di bagian sebelah utara terdapat sebuah bukit kecil dengan Iuas kurang lebih 8 Ha yaitu Gunung Jamungkal dengan ketinggian 192 m dpi

Hidrologi
Rawa Danau sebagai muara dari beberapa sungai yaitu sungai Cimanuk (Cikalumpang), Cibugur, Cisawara, Cisaat, Cidangiang, Citeureup dan Cipadarincang. Sungai-sungai tersebut bersumber dari Gunung Karang, Gunung Parakasak dan Gunung Mandalawangi. Satu-satunya sungai besar yang mengalir dari Cagar Alam Rawa Danau adalah sungai Cidanau yang menjadi sumber air bagi PT. KrakatauTirta Industri dan PDAM Cilegon. Sungai tersebut mengalir ke arah barat dan bermuara di pantai Teneng (Anyer).

Sumber air Rawa Danau juga berasal dari "Kobakan" dan beberapa mata air yang tidak pernah kering sepanjang tahun, selain itu juga terdapat sumber air panas.

Flora
Species di daerah rawa, antara lain :
- Gempol (Antocephalus cadamba)
- Gagabusan (Alstonia apiculata)
- Jajawai (Picus rutsa)
- Kadeper (Mangifera oderata)
- Rengas (Gluta rengas)
Species di perairan danau, antara lain:
- Miminyakan (Hymnachneaniamplex icaulis)
- Babakoan (Calotropis gigantean)
- Eceng Gondok (Eichrnia crassipes)
- Kiambang (Salvinia molesra)
Species di hutan hujan pegunungan, antara lain :
- Ipis Kulit (Decospermu friticisum)
- Puspa (Schima walichii)
- Salam (Eugenia factigiata)
- Tangtalanq (Elaecocarpus ubstusa)

Fauna
Dalam kawasan Cagar Alam Rawa Danau terdapat beranekaragaman satwa liar yaitu mamalia, reptili, aves dan pisces.
Klas Mamalia
- Kera ekor panjang (Macaca fascicularis)
- Babi Hutan (Sus vitatus)
- Bajing (Lariseus insignus)
- Lutung (Presbytes pirrus)
- Surili (Presbytus aygula)
- Kucing hutan (Felis bengalensis)
Klas Reftilia

- Biawak (Varanus salvator)
- Kura kura (Tronik cortilangineus)
- Buaya (Crocodylus porosus)
- Ular sanca (Python reticularis)
- Kuya batu (Siebenrockiella Crassicolis)
- Kodok Bangkong (Bufo melanosticus)
- Belut (Monopterus albus)
Klas Aves
- Raja udang (Halcioncloris palmeri)
- Banyau tongtong (Leptophilos javeni)
- Pecuk ular (Anhinga melanopqaster)
- Elang ruyuk (Spilornis cheela)
- Rangkong badak (Buceros rhinoceros)

Klas Pisces
- Betok (Anabas festudineus)
- Lele (Clarias striata)
- Julong julong (Hemirhamphodon)

Upaya Pelestarian
Berdasarkan wilayah kerja, pengelolaa Kawasan Cagar Alam Rawa Danau merupakan bagian dari wilayah kerja Seksi Koservasi Wilayah I Serang, Bidang KSDA Wilayah I Bogor, Balai Besar KSDA Jawa Barat, sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.

Upaya upaya yang telah dilakukan dalam rangka melindungi dan melestarikan Kawasan Cagar Alam Rawa Danau, Antara lain :
- Penataan batas kawasan
- Perlindungan dan pengamanan
- Pengelolaan kawasan
- Pengelolaan keanekaragaman jenis

Kegiatan Dalam Kawasan

Menurut Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya "Dalam Cagar Alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, Pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya". Secara perorangan atau lembaga/institusi apabila akan melakukan kegiatan dalam Cagar Alam diwajibkan memiliki Surat Ijin Masuk Kawasawan Konservasi (SIMAKSI). 

II. Cagar Alam Gunung Tukung Gede

Cagar Alam Gunung Tukung Gede ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Mentri Pertanian Nomor : 935/Kpts/Um/1979 tanggal 23 Juni 1979 dengan luas 1700 Ha. Cagar Alam Gunung Tukung Gede.

Letak dan Luas
Secara geografis Cagar Alam Gunung Tukung Gede terletak antara 6º14’00” sampai dengan 6º20’00’’ LS dan 105º52’00’’ sampai dengan 105º57’00’’ BT. Berdasarkan wilayah administratifnya kawasan Cagar Alam Gunung Tukung Barat berbatasan dengan :
  • Sebelah Utara              :  Kawasan Perum Perhutani
  • Sebelah Timur             :  Kawasan Perum Perhutani
  • Sebelah Selatan          :  Cagar Alam Rawa Danau
  • Sebelah Barat              :  Kawasan Perum Perhutani

Cagar Alam Gunung Tukung (Timur) termasuk kedalam wilayah kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Bogor, Seksi Konservasi Wilayah I Serang
Topografi
Sebagian besar kawasan Cagar Alam Cagar Alam Gunug Tukung Barat berupa dataran yang memanjang dengan topografi yang relative tinggi yaitu ketinggian berkisar antara 450 s/d 700 m di atas permukaan laut dan memiliki kemiringan antara 45˚ s/d 60˚.

Sungai Cikoneng merupakan sungai yang mengalir melintasi Cagar Alam Gunung Tukung Barat selain itu Sungai Cikoneng juga dimanpaatkan oleh Masyarakat sekitar hutan untuk irigasi dan kebutuhan lainnya dikarenakan kejernihan air sungai Cikoneng itu sendiri.
Geologi dan Tanah
Menurut peta thematik geologi skala 1 : 500.000 dari Kantor Direktorat Bina Program Kehutanan Bogor (1977) Cagar Alam Gunung Tukung Barat sebagian besar terbentuk dari batuan Vulkanik dan sisanya dari batuan sedimen Miophiosin. Jenis tanahnya Regosol, dengan bahan batuan induk pasir pantai dan endapan pasir pantai dan latosol, dengan bahan induk batu bekuan basis dan itermedier.
Iklim
Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson (1962), kawasan Cagar Alam Gunung Tukung Barat termasuk dalam tipe iklim A, dengan bulan basah dari bulan September sampai Mei, dan bulan kering dari bulan Juni sampai dengan Agustus. Suhu berkisar antara 19ºC dan 25ºC.
Aksesibilitas
Cagar Alam Gunung Tukung Gede (Timur) sebagian besar terletak di Kecamatan Gunung Sari dan sedikit di Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Lokasi tersebut dapat dicapai dengan berbagai jenis kendaraan, melalui jalan beraspal dengan kondisi cukup baik dengan rute perjalanan sebagai berikut :
  1. Dari kota Serang menuju Gunung Sari, dengan jarak sekitar 25 km.
  2. Dari Anyer - Mancak – Gunung Sari (Panenjoan) dengan jarak 17 km.
  3. Berdasarkan aksesibilitasnya kawasan Cagar Alam Gunung Tukung Barat dapat dinilai bagus karena prasarana jalan yang melintas obyek wisata sangat baik, dengan waktu tempuh yang diperlukan untuk menuju kota Cilegon  ± 1 jam.


Type Ekosistem
Type ekosistem Cagar Alam Gunung Tukung Barat memiliki tipe Vegetasi hutan hujan pegunungan.
Keanekaragaman Hayati
Jenis Flora yang terdapat pada Cagar Alam Gunung Tukung Barat diantaranya :
1.     Bungur (Lagerstomia Speciosa)
2.     Bayur (Pterospermum javaicum)
3.     Kelapa Ciung (Horsfieldia glabra)
4.     Muncang (Aleurites molucana)
5.     Duren (Durio zibethinus)
6.     Aren (Arenga pinata)
7.     Teureup (Artocarpus alastica)
8.     Puspa (Schima wallichii)
9.     Anggrek (Phalaenopsis sp)
10.    Hantap (Stercullia cocciea)
11.    Pulai
12.    Tongtolok
13.    Kapinango

Jenis Fauna yang terdapat pada Cagar Alam Gunung Tukung Barat diantaranya :
1.     Macan Tutul
2.     Surili (Presbytis aygula)
3.     Owa (Hylobates moloch)
4.     Tando (Ptaurista elegent)
5.     Lutung (Presbytes pyrbus)
6.     Kancil (Tragulus javanicus)
7.     Elang (Spilornis poligua)
  8.     Ular sanca (Phyton reticulata)

Pengelolaan Kawasan
Berdasarkan wilayah kerja, pengelolaan Kawasan Cagar Alam Gunung Tukung Barat merupakan bagian dari wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Bogor, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Upaya pelestarian yang telah dilakukan untuk melindungi dan melestarikan Kawasan Cagar Alam Gunung Tukung Barat, diantaranya :
  • Penataan batas kawasan hutan
  • Inventarisasi flora dan fauna pada tahun 1997
  • Melaksanakan patroli rutin dan patroli gabungan oleh polisi kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Serang dalam rangka pengamanan kawasan
  • Melaksanakan penyuluhan ke masyarakat dalam rangka sosialisasi undang-undang Nomor : 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
  • Melaksanakan kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) atau lebih popular disebut GERHAN dengan penanaman pohon yang endemik untuk mengembalikan kondisi ekosistem hutan yang rusak ke fungsi awalnya/alaminya (restorasi kawasan konservasi).
  •  

III. Cagar Alam Pulau Dua
Cagar Alam Pulau Dua mempunyai kekhasan tumbuhan dan satwa terutama habitat berbagai jenis burung air baik lokal maupun migran.   Cagar Alam Pulau Dua telah dikenal sebagai kawasan yang sangat menarik dan sangat penting, banyak ahli burung dari dalam dan luar negeri yang telah berkunjung ke kawasan ini dengan tujuan utama melakukan pengamatan dan penelitian burung air.
Letak
Secara letak geografis CA Pulau Dua terletak 6°11'5"-6°12'5" Lintang Selatan dan 105°11'38"-106°13'14" Bujur Timur, berada di pantai utara teluk Banten. Berdasarkan wilayah administratif Pemerintahan Cagar Alam Pulau Dua termasuk Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 253/Kpts-II/1984 tanggal 26 Desember 1984, menetapkan perluasan kawasan Cagar Alam Pulau Dua menjadi 30 ha.
Menurut wilayah pengelolaan Cagar Alam Pulau Dua termasuk wilayah kerja Seksi Koservasi Wilayah I berkedudukan di Serang, Bidang KSDA Wilayah I Bogor. Balai Besar KSDA JawaBarat.
Topografi
Sebagian besar kawasan Cagar Alam Pulau Dua berupa dataran rawa mangrove dengan topografi yang relative rendah yaitu ketinggian berkisar antara 1 – 3 m di atas permukaan laut dan keadaan lapangan landai serta memiliki kemiringan relatif datar antara 5 % - 10%.
Hidrologi
Tiga sungai yang bermuara ke Cagar Alam Pulau Dua yaitu sungai Kepuh, sungi Padek, dan Citangsi, sungai sungai tersebut berasal dari aliran irigasi yang berada dibagian selatan Pulau Dua dan enam sungai yang mengalir dari Cagar Alam Pulau Dua  yaitu sungai Cigenteng, Cipacar, Bistrik, Cirukem, Cikelapa, Citangsi. Merupakan tumpuan dari petani tambak tradisionil yang dipergunakan untuk mengairai  tambak–tambak yang berada disekitarnya.
Geologi Dan Tanah
Menurut Pusat Pengembangan dan penelitian Geologi (1994), sebagian besar Kawasan CA Pulau Dua terbentuk dari gugusan batu karang dan pasir yang merupakan hasil endapan lumpur. Keadaan geologinya, berupa batuan sedemen quartier (aluvial), dan jenis tanah yang berdasarkan pada bahan induknya adalah alivial kelabu tua dari bahan endapan liat di daerah dasar, assosiasi hidromorf kelabu tua dari bahan endapan liat  dan pasir di daerah datar.  
Iklim
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson,kondisi iklim di kawasan CA Pulau Dua termasuk tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata 250 mm/tahun.Suhu  rata-rata 25°C-32°C, kelembaban udara mencapai 40%-60% dengan bulan basah terjadi pada bulan Nopember sampai Bulan Februari, sedangkan bulan kering terjadi antara  Maret sampai bulan Oktober.  
Aksesibilitas
Untuk mencapai  Cagar Alam Pulau Dua dapat di tempuh dua jalur :
  1. Dari kota Serang dapat menggunakan kendaraan umum ke Sawah luhur dengan jarak sekitar 10 km dengan waktu tempuh 20 menit, untuk mencapai lokasi dapat menggunakan motor roda dua (ojeg) dengan jarak tempuh 3 km melalui tambak-tambak tradisionil dengan waktu tempuh 5 menit.
  2. Dari kota Serang dapat menggunakan kendaraan umum ke Karangantu  dengan jarak sekitar 12 km dengan waktu tempuh 20 menit, dari Pelabuhan Karangantu dapat menggunakan motor boat menuju Pulau Dua dengan jarak sekitar 1 mil dengan waktu tempuh 30 menit.
Type Ekosistem
Cagar Alam Pulau Dua memiliki  type vegetasi pantai merupakan daerah yang lebih tinggi sehingga tidak terkena oleh pasang surut, sedangkan vegetasi mangrove merupakan daerah pasang surut yang selalu tergenang air laut.  
Keanekaragaman Hayati
Sampai saat ini vegetasi di Cagar alam Pulau Dua terdiri dari 3 komunitas utama yaitu kiribut (Diospyros maritima), bakau (Rhizopora sp.) dan api-api (Avecennia marina).Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi pada saat Pulau terpisah dengan pulau jawa, pada saat itu komunitas utama vegetasi di Cagar Alam Pulau Dua  hanya komunitas api-api (Avicenia marina), yang mendominasi 60% dari vegetasi yang ada, dan bakau (Rhizophora sp), dan komunitas lainya adalah kiribut (Diospyros maritime) yang mewakili daerah tidak dipengaruhi oleh pasang surut.     
   Dengan perkembangan tersebut vegetasi di Cagar Alam Pulau Dua sesuai dengan topografi dan iklim komposisi hutan nya terdapat tidak kurang dari 85 jenis tumbuhan yang tergolong kedalam 40 famili, berdasrkan type vegetasinya kawasan ini  dikatagorikan menjadi lima formasi yang berbeda yaitu :
  • Formasi Rhizophora sp daerahnya yang selalu digenangai air laut, dengan posisii kedalam, tumbuhan yang dapat beradaptasi antara lain bakau (Rhizophora aviculata), (Rhizophora stylosa), tanjang (Bruguera clyndrica), gedangan  ( Aegiceros coniculatum) dan taruntum (Lumnitzera racemosa).
  • Formasi Avicenia sp yang menempati daerah Lumpur yang masih lunak yang selalu tergenang air laut dengan posisi menjorok keluar, tumbuhan yang dapat beradaptasi antara lain : Api-api ( Avicennia alba), (Avicennia marina), pidada (Sonneratia acida), niri (Xilocarpus molucensis), dan tanjang (Bruguira clyndrica).
  • Formasi pantai  berpasir yang meliputi pantai sebelah timur sebagian besar tumbuhan perdu dan khas pantai, tumbuhan yang dapat beradaptasi antara lain : gambiran (Clerodrindron inerma), cente (Lantana camara), beluntas ( Plucea indica), dan katang-katang (Ipomea pescapre).
  • Formasi Diospyros maritima yang menempati wilayah daratan. tumbuhan yang dapat beradaptasi antara lain : Kiribut (Diospyros maritime), tanjung (mimosops elengi),  kepuh ( Sterculia foetida), ketapang (Terminalia cattapa), sawo kecik (Manilkara kauki), asam (Tamarindus indica), dadap laut (Erytria vaeriegata),  dan soka hutan (Exora timorensis).
  • Formasi semak belukar umumnya menempati   daerah – daerah punggung pada ketinggian 2 – 3 m diatas permukaan laut. tumbuhan yang dapat beradaptasi adalah : (Buterodes striatus), (Lantana camara), (Plucea indica), (Tripasi teripolia), dan (Exphatorium oderatum). Di dalam kawasan Cagar Alam Pulau Dua terdapat beberapa satwa liar yang beraneka ragam, dari kelompok mamalia, reptilia, aves dan pisces.

Mamalia beberapa jenis hewan menyusui yang ditemukan di kawasan  ini adalah, kucing hutan (Fellis viverrina) dan Genggarangan (Hervertus javanicus), 
Reftilia  hewan  melata  dapat  ditemukan  antara  lain  Bawak (Varanus salvator), ular kobra (Naja sputatrik),dan Amphibi adalah katak sawah (Rana cantrvora).
Aves Pulau Dua dikenal dengan surga bagi berbagai jenis burung karena sedemikin banyak jumlah burung air yang ada di kawasan ini maka mayarakat sekitar menyebutnya dengan pulau burung, sampai saat ini tidak kuarang dari 108 jenis burung dari 39 famili ditemukan dikawasan ini. tercatat 31 burung lokal pulau dua, Selain burung lokal ada juga tercatat 77 jenis sebagai Burung pendatang, dari luar Pulau Dua, juga tempat persinggahan sekelompok burung air migran yang menghabiskan sebagian hidupnya di Indonesia, dimana mereka sedang melakukan perjalanan dari belahan bumi utara menuju belahan bumi selatan, Burung yang melakukan migrasi tersebut terutama pada kelompok burung suku Charadriidae dan suku Scolopacidae
Pengunjung
Kawasan Cagar Alam Pulau Dua merupakan habitat bagi burung-burung air juga memilki pantai yang indah dengan keberadaan tersebut menyebabkan banyak mendapat perhatian  dan kunjungan, tidak hanya dari masyarakat sekitar kawasan juga kota-kota lain di wilayah Propinsi Banten.
Di kalangan pengamat burung di Indonesia dan bahkan di luar negeri Cagar Alam Pulau Dua telah dikenal sebagai kawasan yang sangat menarik dan sangat penting, banyak ahli burung dari dalam dan luar negeri yang telah berkunjung ke kawasan ini dengan tujuan utama melakukan pengamatan burung air. Disamping itu banyak pula Mahasiswa dari berbagai Universitas di Jakarta, Bogor,   Bandung, Padang, Medan serta lainnya melakukan pengamatan dan penelitian di kawasan ini, baik untuk keperluan skripsi, thesis, disertasi, maupun untuk kerja praktek. Nilai penting Cagar Alam Pulau Dua juga telah disajikan dalam berbagai tulisan di Majalah, Surat Kabar, Jurnal dan Buku.  


Perijinan
Ketentuan dan peraturan tentang perijinan masuk kawasan konservasi berpedoman kepada Surat Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No. SK. 192/IV-Set/HO/2006 tanggal 13 November 2006 tentang Surat Izin Masuk Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Taman Buru.
Untuk memasuki kawasan Cagar Alam Pulau Dua seseorang dan kelompok untuk kepentingan ilmiah harus mengajukan permohonan ijin dengan dilampiri proposal. Informasi lebihlengkap dapat menghubungi  Kantor Seksi Konsevasi Wilayah I. Jl.H.Tb. Suwandi Gg.Perintis III. No.9 Tlp.(0254) 210968 Serang.
Upaya Pelestarian
Upaya upaya yang telah dilakukan dalam rangka mempertahankan melindungi serta melestarikan keberadaan Kawasan Cagar Alam Pulau Dua antara lain :
  • Perlindungan dan pengamana kawasan
  • Penataan batas kawasan hutan.
  • Rehabilitasi kawasan Pulau Dua
  • Pengelolaan penelitian dan pendidikan konservasi
  • Inventarisasi flora dan fauna   tahun 1997
  • Melaksanakan   penyuluhan  atau anjang sono  ke   masyarakat dalam  rangka sosialisasi Undang  undang  Nomor 5 tahun  1990  tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya
  • Pembinaan kesadaran masyarakat melalui pengembangan ekonomi masyarakat dengan memberikan bantuan modal terhadap masyarakat sekitar hutan.
  • Pembangunan sarana dan prasarana perlindungan dan pengaman kawasan (Pos Jaga, Menara pengawasan kebakaran dan Menara pengamatan burung)

IV. Taman Wisata Alam Pulau Sangiang 

Taman Wisata Alam Pulau Sangiang merupakan salah satu kawasan Pelestarian Alam yang memunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.  Taman Wisata Alam Pulau Sangiang ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No : 55/KPTS-II/93 tanggal 8 febuari 1993 seluas 528,15 ha dan Perairan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No : 698/KPTS-II/91 tanggal 12 Oktober 1991 seluas 720 ha.

Letak Dan Luas
Secara geografis Taman Wisata Alam Pulau Sangiang terletak antara 5º56’00’’ sampai dengan 5º58’00’’ LS dan 105º49’30’’ sampai dengan 105º52’00’’ BT, Kawasan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang terletak di Selat Sunda dan menurut administratif pemerintahan terletak di wilayah Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Propinsi Banten.

Iklim
Menurut klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson, Kawasan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang termasuk kedalam tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata 1.840 mm/th . Curah hujan terbesar terjadi antara bulan Agustus sampai dengan bulan Januari dan curah hujan terkecil terjadi antara bulan Febuari sampai dengan bulan Juli (pada periode ini biasanya terjadi musim kemarau), Suhu berkisar antara 25ºC s/d 32ºC       
             
Fisiografi, Geologi Dan Tanah
A. Fisiografi
Secara keseluruhan Kawasan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang terletak pada ketinggian 0 sampai dengan 155 m DPL dan keadaan topografi kawasan dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :

  • Daerah landai terletak dibagian timur
  • Daerah bukit terletak mulai dari utara terus menuju keujung barat laut menyusuri kawasan perbukitan bagian barat dan sedikit tanjung yang paling selatan
  • Daerah curam dengan bentuk terjal pada bagian pulau yang menghadap ke arah barat


B. Geologi dan Tanah
Kawasan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang terdiri atas susunan bahan Holocene dari jenis Undiffereentiated Vulcanic Product (Sumber : Peta tanah tinjauan Jawa dan Madura tahun 1983)
Kawasan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang secara geologinya memiliki 2 (dua) jenis batuan yang terkandung yaitu :

  • Tufa batuan atas terdiri dari bagian atas meliputi : Tupa Sela, Tufa berbatu apung
  • Tufa bauan bawah meliputi : tufa hablur, tufa lapili (berbatu), tupa lempungan berwarna kemerahan
  • Batuan gunung api, danau muda terdiri dari aliran bersusun andesibasalt


Potensi Kawasan

Kawasan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang mempunyai potensi wisata yang memperhatikan keanekaragaman hayati yaitu : wisata alam, wisata bahari, dan wisata budaya.

  • Wisata Alam terdiri dari : lintas alam, berkema
  • Wisata Bahari terdiri dari : Scuba diving, Snorkelin
  • Wisata Budaya terdiri dari : Mengetahui nilai sejarah benteng bekas pertahanan Jepang dan puing bangunan bekas rumah sakit pada jaman pemerintahan belanda


Taman Wisata Alam Pulau Sangiang mempunyai 3 (tiga) tife vegetasi, yaitu :

  • Vegetasi hutan pegunungan dataran rendah; Jenis-jenis pohon yang terdapat dalam vegetasi ini adalah : Walikukun (Scotenia ovata), Kepuh (Sterculia foetida), Kelapa ciung (Horfieldia glabra), Kihiang (Vitek sp), Bungur (Lagrestroemiamia speciosa).
  • Vegetasi hutan pantai; Jenis-jenis pohon yang terdapat dalam vegetasi ini adalah : Ketapang (Terminalia catappa), Waru laut (Hibiscus tiliaceus), Nyamplumg (Calophylum inophyllum), Centigi (Pemphis acidula).
  • Vegetasi hutan payau (mangrove); Salah satu keunikan alam yang belum dapat ditemukan ditempat lain adalah adanya badan air yang merupakan bagian dari laut yang menjorok kedaratan (legon / estuaria), di Taman Wisata Alam Pulau Sangiang ada 3 (tiga) legon yaitu: Legon Waru, Legon Tembuyung, Legon Kedongdong. Jenis Vegetasi yang terdapat pada kanan-kiri legon merupakan hutan mangrove yang didominasi dengan jenis : Bakau (Rhizophora sp), Tancang (Bruguera farvifolia), Api-api (Avicenia alba), Perepat/Bogem (Soneratia alba), Buta-buta (Excoecaria agallocha).


Potensi fauna yang terdapat pada kawasan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang meliputi fauna daratan dan perairan, diantaranya :
  • Jenis fauna daratan : Rusa (Cervus timorensis), Landak (Histryx brachyuran), Kacil (Tragulus javanicus), Kucing bakau (Felis viverenus), Biawak (Varanus salvator), Buaya muara (Crocodilus porosus), Sanca (Phyton morulus), Raja udang (Halcion chloris), Kuntul karang (Egreta sacra), Kepodang (Oriolus chinensis), Perkutut (Geopelia striata), Cangak (Ardea purpurea).
  • Jenis fauna perairan :

  1. Jenis xenia sp               : Karang lunak (soft coral)
  2. Jenis Acropora              : Karang batu (stone coral)
  3. Jenis Heliopora coeruda  : Karang biru (Blue coral)
  4. Jenis Meliophora           : Karang api
  5. Jenis Ikan karang          : Chateodon sp, Pomacentrus  sp, dan Acanthurus sp.


Pengelolaan Kawasan
Taman Wisata Alam Pulau Sangiang ditetapkan berdasarkan keputusan menteri kehutananan No. 55/ Kpts-II/1993 tanggal 8 Febuari 1993 dengan luas 528,15 ha dan Perairan  Taman Wisata Alam Pulau Sangiang ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No : 698/KPTS-II/91 tanggal 12 Oktober 1991 seluas 720 ha yang pengelolaannya dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat.
Berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 66/Kpts-II/1993 tanggal 12 Pebuari 1993 Hak Pengusahaan Pariwisata Alam (HPPA) Taman Wisata Alam Pulau Sangiang diliberikan kepada PT. Pondok Kalimaya Putih
Aksesibilitas
Taman Wisata Alam Pulau Sangiang yang terletak di perairan Selat Sunda dapat dicapai dengan kendaraan laut (boat) dari Anyer selama 1 jam. Untuk menempuh Kota Anyer dapat ditempuh melalui :

  • Dari kota serang menuju anyer berjarak ± 34 Km (± 1,5 Jam), dari Anyer menuju Pulau Sangiang menggunakan perahu dengan waktu tempuh ± 1 Jam perjalanan
  • Dari Jakarta melalui tol Tangerang –Serang – Anyer berjarak ± 147 Km (± 4 Jam), dari Anyer menuju Pulau Sangiang menggunakan perahu dengan waktu tempuh ± 1 Jam perjalanan

V. Taman Wisata Alam Carita


Taman Wisata Alam Carita merupakan salah satu kawasan Pelestarian Alam yang memiliki potensi flora, fauna dan ekosistemnya serta gejala dan keunikan alam sebagai objek dan daya tarik wisata alam. Sebagai kawasan Pelestarian Alam, Taman Wisata Alam Carita adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik didarat maupun diperairan yang memunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.
Semula Taman Wisata Alam Carita merupakan kumpulan hutan Gn.Asepan dan ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 440/Kpts/Um/7/1978 tanggal 1 Juli 1978, sebagai kawasan Taman Wisata Alam.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 284/Kpts-II/1990 tanggal 4 Juni 1990 Hak Pengusahaan Wisata Alam Taman Wisata Alam Carita diberikan kepada Perum Perhutani Unit III Jawa Barat.

Letak dan luas
Secara geografis Taman Wisata Alam Carita terletak di antara 6° 19’ 23” – 6° 20’ 24” Lintang Selatan dan 105° 50’12” - 105°51’14”  Bujur Timur, Secara administratif kawasan ini terletak di wilayah Desa Sukarame, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten.  Adapun batas kawasan adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara              :  Desa Sukarame, Carita.
Sebelah Selatan           :  Teluk Carita.
Sebelah Barat              :  Desa Sukarame, Carita.
Sebelah Timur              :  Desa Sukarame, Carita
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 440/ Kpts/Um/7/1978 tanggal 15 Juli 1978, dengan luas 95 Ha.  Menurut wilayah pengelolaan Taman Wisata Alam Carita termasuk wilayah kerja Seksi Koservasi Wilayah I berkedudukan di Serang, Bidang KSDA Wilayah I Bogor. Balai Besar KSDA Jawa Barat.

Topografi
Kawasan Taman Wisata Alam Carita merupakan daerah yang memiliki topografi datar sampai bergelombang ringan dan terletak pada ketinggian 100 meter dpl.

Iklim

Iklim menurut Schmidt dan Ferguson termasuk ke dalam tipe A dengan nilai Q 11,9.  Curah hujan tahunan  antara 50 – 450 mm.  Bulan Oktober sampai Mei meupakan bulan terbasah dengan curah hujan tiap bulan mencapai lebih dari 200 mm, bulan Desember sampai maret curah hujan lebih dari 400 mm.  Pada bulan-bulan terkering (kecuali dalam tahun-tahun terkering) curah hujan masih mencapai  lebih dari 60 mm.            
                               
Geologi dan tanah
Berdasarkan Peta Geologi Jawa  dan Madura lembar I (Jawa Barat) skala 1  500.000, Direktorat Geologi Tahun 1963 formasi geologi yang terdapat di Taman Wisaa Alam Carita merupakan hasil gunung api tidak teruraikan. Bagian timur kawasan Taman Wisata Alam Carita merupakan daerah dengan topografi bergelombang tertutup oleh lapisan tanah jenis latosol yang berwarna merah, tersusun oleh mineral pasir dengan bahan induk batuan beku intermedier dan basis.   Sedangkan bagian barat  bertopografi datar tertutup oleh lapisan jenis tanah aluvial yang berwarna coklat kekuningan, tersusun oleh mineral pasir  terutama terdiri mineral lapukan dengan bahan induk liat dan pasir tergantung dari asalnya.

Hidrologi

Terdapat beberapa sungai yang melintasi kawasan Taman Wisata Alam Carita yaitu sungai Cicangkala, Sungai Citeuran Batu dan Sungai Cikandang. Sungai Cicangkala merupakan salah satu sungai yang mengalir melintasi kawasan Taman Wisata Alam Carita.
Potensi biotik 
Flora
Sebelum ditetapkan sebagai kawasan Taman Wisata Alam Carita, semula merupakan kelompok hutan Gn.Asepan yang pengelolaannya dilakukan oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat yang terbagi dalam 3 kawasan pengelolaan, terdiri dari :
a.   Hutan Lindung : tife vegetasi hutan hujan dataran rendah dengan Jenis tumbuhan antara lain  Pulai (Planchonia valida), Salam (Eugenia poleanta), Teureup (Artocarpus indicus).
b.   Hutan Produksi : tife vegetasi hutan dengan jenis tumbuhan komersil antara lain Mahoni (Swietenia macrophylla), Jati (Tectona grandis), Ketapang (Terminalia catappa), Melinjo (Gnetum gnemon), Mindi (Melia azedarach), Meranti (Shorea sp).
c.   Kebun percobaan tanaman asing : tife vegetasi hutan tanaman asing antara lain Araucaria cunninghamii D. Den (berasal dari Australia), Lagerstroemia duperiana Pierre (berasal dari Vietnam),

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor 42/Kpts/DJ-VI/1995 tanggal 27 Maret 1995 pada kawasan Taman Wisata Alam Carita terdapat Blok penelitian tanaman.

Fauna
Jenis satwa liar yang terdapat di Taman Wisata Alam Carita antara lain : Lutung (Trachyphitecus auratus), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Babi Hutan (Sus vittatus) dan Luwak (Paradoxiurus hermaproditus), Srigunting (Dicrurus macrocercus), Alap-alap (Falco moluccensis), Elang (Spilornis cheela), Kadal (Mabouya multifasciata), Ular sanca (Phyton sp)

Wisata alam
Taman Wisata Alam Carita adalah suatu kawasan bentuk lansekap yang indah, keanekaragaman flora dan fauna  serta beberapa gejala alam antara lain Curug Gendang, Curug Putri, Cadas Ngampar, Ekosistem hutan dan ekosistem sungai, selain itu sesuai dengan potensi dan kondisi fisik  kawasan Taman Wisata Alam Carita maka dapat dilakukan kegiatan wisata alam berupa : Education Tourism ( Wisata Alam Pendidikan), camping ground, piknik, out bound, dan wisata konvensi.


Curug Gendang merupakan salah satu objek wisata yang bernuansa panorama alam dan mempunyai daya tarik serta keindahan alam tersendiri dengan kedalaman air 10 mdpl dan ketinggian tebing 7 meter dpl Curug Gendang merupakan aset wisata Taman Wisata Alam Carita.
Taman Wisata Alam Carita menyediakan tempat / areal outbound beserta sarana dan prasarananya bagi pengunjung yang suka tantangan.
Aksesibilitas
Taman Wisata Alam Carita  terletak di Kabupaten Pandeglang, Lokasi tersebut dapat dicapai dengan berbagai jenis kendaraan, melalui jalan beraspal dengan kondisi cukup baik dengan rute perjalanan sebagai berikut :
  • Dari Jakarta – Serang – Pandeglang – Labuan – Lokasi TWA ± 170 km (± 4,5 jam).
  • Dari Jakarta – Serang – Cilegon – Anyer – Lokasi TWA ± 170 km (± 4,5 jam).

Berdasarkan aksesibilitasnya kawasan Taman Wisata Alam Carita dapat dinilai bagus karena prasarana jalan yang melintas obyek wisata sangat baik, dengan waktu tempuh yang diperlukan untuk menuju pusat kota pandeglang   ± 1 jam.
Selain kondisi jalan yang bagus, kawasan TWA Carita berdekatan dengan berbagai obyek wisata Pantai Carita, serta dapat dilalui berbagai jenis kendaraan umum menjadikan taman wisata alam ini sangat mudah untuk dikunjungi oleh wisatawan/pengunjung.